Artikel

Ketika Semua Mata Fokus Ke Eks ISIS, Eks Kombatan Dari Faksi Lain Jangan Terlupakan

Published

Ketika Semua Mata Fokus Ke Eks ISIS, Eks Kombatan Dari Faksi Lain Jangan TerlupakanBaru-baru ini, semua mata seolah tertuju hanya pada eks kombatan ISIS dan keluarganya. Padahal, eks kombatan dari faksi lain seperti...
Ketika Semua Mata Fokus Ke Eks ISIS, Eks Kombatan Dari Faksi Lain Jangan TerlupakanBaru-baru ini, semua mata seolah tertuju hanya pada eks kombatan ISIS dan keluarganya. Padahal, eks kombatan dari faksi lain seperti...
Sumber Video

Baru-baru ini, semua mata seolah tertuju hanya pada eks kombatan ISIS dan keluarganya. Padahal, eks kombatan dari faksi lain seperti Hayat Tahrir al-Sham (sebelumnya Jabhat al-Nusra plus gabungan beberapa faksi sehaluan), Ahrar al-Sham, Jaysh al-Islam dan lainnya banyak dari mereka berasal dari Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Mereka sama-sama ingin menegakkan Khilafah di Bumi Syam (Suriah dan sekitarnya), cuma kiblat mereka relatif berbeda. ISIS sebenarnya sempalan dari Al-Qaeda yang diilhami oleh kepemimpinan Abu Musab al-Zarqawi, Sementara Hayat Tahrir al-Sham (HTS) murni berafiliasi ke al-Qaeda (walaupun untuk sementara menyatakan memilih berpisah). Sementara, Ahrar al-Sham dan faksi-faksi tempur lainnya cenderung berkiblat ke Ikhwanul Muslimin, sehingga banyak didukung oleh pemerintah Turki dan Qatar. Sedangkan Jaysh al-Islam cenderung berkiblat ke Saudi.

Saat ini, mata dunia baru terfokus ke eks ISIS yang kebetulan telah dikalahkan secara teritorial oleh pasukan Syrian Democratic Forces  (SDF) dengan dukungan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat. Banyak eks kombatan ISIS dan keluarganya yang tertahan di penjara dan kamp-kamp yang dikuasai oleh otoritas Kurdi.

Sementara itu, faksi-faksi tempur lain seperti HTS dan semua faksi dukungan Turki, Qatar dan juga Saudi masih berjuang keras untuk menghadapi pertempuran terakhirnya dengan militer Suriah di Idlib dan sebagian wilayah Aleppo.

Fakta di lapangan, faksi-faksi tempur tersebut sebenarnya sering bertempur di antara mereka sendiri karena perebutan wilayah, pengaruh atau perbedaan ideologi. Namun sering melebur menjadi satu kekuatan di bawah kepemimpinan HTS ketika melawan kekuatan militer Suriah.

Para kombatan dari semua faksi tempur juga sering lompat pagar dan berubah menjadi petempur faksi lain, walaupun mereka memiliki ideologi yang sebenarnya relatif berbeda. Banyak petempur handal yang semula dari ISIS, tiba-tiba berbaiat ke HTS ataupun vice versa. Atau dari Ahrar al-Sham ke HTS vice versa.

Namun, apapun juga kombatan eks Suriah – Irak apapun afiliasinya adalah kombatan yang sangat terlatih, sangat berbahaya dan ideologinya jelas pasti menolak ideologi kita. Sebagian besar ideologi mereka adalah ingin menegakkan khilafah di manapun di muka bumi.

Banyak kombatan non eks ISIS yang lalu lalang dari dan ke Indonesia – Turki – Suriah. Mereka seolah begitu bebas lepas lalu-lalang, karena kebetulan tidak menjadi perhatian publik yang saat ini banyak tertuju ke ISIS.

Sangat tidak bijaksana kalau semua perhatian hanya mewaspadai eks ISIS, namun melupakan bahwa ada eks kombatan dari faksi tempur lain yang tidak kalah bahayanya. Mereka memiliki banyak pendukung di dalam negeri, dan untuk sementara saat ini disatukan oleh musuh bersama ideologis mereka, yaitu ideologi kita.