Bandara Udara Terjelek Di Dunia: Bandar Udara Radin Inten II

Telah Dibaca: 3,160 Kali

Meski tidak enak untuk dikatakan atau didengar, namun hal ini akan saya ceritakan mengenai salah satu Bandar Udara Terjelek Di Dunia. Setiap perjalanan penerbangan baik di luar maupun dalam negeri selalu menyimpan kenangan tersendiri mulai dari kenyamanan penerbangan, kondisi pesawat, ketepatan jadwal penerbangan, fasilitas parkir, airport tax, ruang tunggu, kebersihan, karakter penumpang. Tak luput pula saya akan berbagi pengalaman perjalanan penerbangan kali ini.

Dari sekian banyak penerbangan di dalam dan di luar negeri ada satu pengalaman yang tak terlupakan ketika saya melakukan perjalanan ke Yogya-Lampung. Untuk Lampung  dari Yogya saya transit dulu di Bandar Udara Soetta Jakarta. Perjalanan dari Jakarta ke Lampung kira-kira di tempuh dalam waktu 30 menit, dan kita akan mendarat Bandar Udara Radin Inten II Tanjung Karang Lampung. Saya dua hari di Lampung karena ada acara yang harus saya hadiri di sana. Kota Lampung sudah padat dan pada jam-jam tertentu di kota Lampung sudah banyak yang macet.

Sewaktu perjalanan pulang dari  Lampung ke Jakarta saat itu saya menggunakan pesawat GA0218 dengan jadwal boarding jam 16.40. Saat menuju bandara saya diantar salah satu sahabat saya di Lampung. Dari sinilah awal ketidaknyamanan yang saya alami. PT angkasa pura sebagai pengelola bandara udara Radin Inten II seakan tidak memperhatikan kenyamanan pengunjung, dimana ruang parkir nampak semrawut. Babar blas nggak tertib, dimana pengelola membiarkan pengunjung untuk parkir sembarangan, sehingga untuk menuju pintu kedatangan saja sangat tidak nyaman. Suasana di seputar area check in juga nampak tidak beraturan dan jelas tidak sedap dipandang.

Sebelum masuk ruang tunggu saya kaget karena harus membayar sumbangan sebesar Rp4000 . Seumur-umur naik pesawat baru kali ini saya diminta membayar karcis yang berbunyi sumbangan pihak ketiga Pemerintah Provinsi Lampung (Dinas Perhubungan Provinsi Lampung) dari penumpang udara. Tentu hal ini mengherankan untuk apa sumbangan itu? Kayaknya Pemda Lampung butuh uang banget sehingga minta sumbangan ke penumpang.
Begitu masuk di ruang tunggu, waduw suasana tidak mencerminkan ruang tunggu Bandar Udara, mungkin kaya terminal bis kali ya, atau lebih parah lagi. Sore itu penumpang cukup padat di ruang tunggu. Saya harus clingukan mencari tempat duduk dan susah untuk akses karena penataan kursi seakan tidak dipikirkan akses jalan. Belum sampai disitu ketidaknyamanan saya, kabel-kabel bertegangan tinggi seakan tidak diurus, atau dibiarkan tidak rapi, padahal sangat membahayakan orang. Belum lagi perilaku orang di ruang tunggu dengan santaianya tidur dengan kaki selonjor dan menumpang di kursi lain, sudah pasti merusak suasana sore itu. Sampe-sampe penampang di samping saya misuh-misuh (mengumpat) tidak karuan karena hal itu.

Sudah tidak bersih, semrawut, panas dan kotor. Kursi-kursi berjamuran seakan dibiarkan. Atau mungkin jadi penglaris kali ya, semakin banyak jamurnya semakin laris penerbangannya, hahaha. Pokoke ora nyaman blas! Selain itu toilet di ruang tunggu juga tidak ada, bayangkan kalau ada yang kebelet pipis harus keluar dari ruang tunggu cari toilet yang jalannya lumayan jauh.

Setelah jam boarding ternyata saya masih diuji kesabarannya. Sore itu hujan mulai turun, padahal pesawat lumayan jauh dari ruang tunggu. Pihak Garuda atau Angkasa Pura seakan membiarkan penumpang berlarian di tengah hujan untuk menuju pesawat. Terus apa gunanya restribusi, airport tax jika kenyamanan penumpang tidak diberikan. Apa guna harga tiket yang mahal kalau nyediain payung saja tidak bisa. Kalau badanya masih langsing seperti saya berlarian sekitar 400m ya nggak apa2, tapi coba bayangkan kalau seperti temen saya yang obesitas, tentu bisa copot jantungnya, hahaha.
Fenomena ini tentu menjadi perhatian kita mengenai kalayakan Bandar Udara yang mana sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Inilah sekelumit cerita mengenai Bandar Udara Terjelek di Dunia: Bandar Udara Radin Inten II.