Perang Suriah Terbukti Dikendalikan Dengan Remote Control Dari Luar Negeri

Telah Dibaca: 1,286 Kali

Perang di Suriah tampaknya semakin dikendalikan dengan remote control dari luar negeri. Hampir semua negara di wilayah ini tampaknya terlibat .  Qatar menyediakan bagian terbesar dari dananya ke Tentara pembebasan Suriah. Namun, investasi tersebut hasilnya sangat mengecewakan. Untuk menghindari dananya terbuang sia-sia, Qatar telah memutuskan untuk membagikan mereka atas dasar tindakan yang dilakukan. 

 

Perilaku Korup para pimpinan Oposisi Suriah

“Musim Semi Arab” yang dihasut oleh Qatar dan sekutu-sekutunya di Suriah secara perlahan tapi pasti mulai mereda, dan orang-orang yang nyata di balik tontonan mengerikan yang dikenal sebagai “Revolusi Suriah” sedang dihakimi oleh para bossnya dengan tanpa ampun.

Pejabat tinggi di Qatar yang ingin tetap anonim mengatakan kantor pada berita Arab bahwa monarki Qatar menjadi semakin kecewa dengan pemberontak dan oposisi Suriah. Meluasnya kasus suap dan disipasi dana oleh pemimpin pemberontak, yang  justru “menghabiskan lebih banyak waktu mereka di hotel di Turki, Eropa, negara-negara di Teluk dan Mesir”. Bukannya melakukan misi tempur, bertanggung jawab untuk ini perubahan sikap terhadap orang-orang di balik revolusi Suriah, etapi malah melancong ke mana-mana.

Kedua koalisi yang baru-terorganisir dan veteran oposisi Suriah telah lama menjadi antek monarki Qatar untuk melawan pemerintah Suriah . Mereka menerima dana yang luar biasa besar dari rejim Qatar, tetapi hasil lapangannya sungguh membuat Qatar sangat berang. Para donor dari Qatar mulai balik kucing dan mengubah kebijakan engan hanya mendanai aksi-aksi tempur yang benar-benar berhasil. Hal ini memaksa para pemberontak Suriah untuk mau tidak mau harus melakukan serangan setiap hari. Agar, hasilnya kelihatan luar biasa hebat, maka mereka harus melakukan publikasi super gencar, walaupun seringkali sangat terlihat sebagai propaganda murahan. Eloknya, media barat-pun begitu mudah terkesima. Padahal, dilapangan sendiri, sebenarnya Tentara Pembebasan Suriah, cepat atau lambat mulai diberangus habis oleh tentara Suriah. Akhir-akhir ini pergerakan mereka mulai menyempit. Mereka hanya dapat mengganggu tentara Suriah di sekitaran perbatasan Turki, sementara disana juga mendapatkan resistensi yang luar biasa dari gerilyawan Kurdi (Kurdish YPG).

 

Dukungan publik terhadap Tentara Pembebasan Suriah semakin melemah

Beberapa tindakan tentara bayaran termasuk FSA  terhadap penduduk lokal telah menyebabkan ketidakpuasan yang serius dan menyebabkan konflik tidak hanya dengan warga sendiri, tetapi juga antar pejuang dari FSA yang berasal dari Suriah asli, Terutama yang beroperasi di bawah naungan Al-Qaeda, sebenarnya telah terjadi rivalitas yang panas antar pasukan pemberontak non-Suriah dengan pasukan pemberontak yang berasal dari Suriah.

Dalam hal kesehatan mental, kekejaman dan ketelengasan mereka yang luar biasa justru membuat warga sipil menjadi sangat ketakutan. Belum lagi perilaku kriminal mereka yang suka menculik penduduk asli dan ujung-ujungnya meminta tebusan. Tidak pandang bulu, apapun etnis dan agamanya, jika tidak mendukung gerakan mereka dalam kawasan teritorinya, jangan harap bisa selamat. Pembantaian, penjarahan, dan bahkan pemerkosaan menjadi sesuatu hal yang sangat mudah ditemukan dimanapun mereka berada.

Baru-baru ini, pemberontak melepaskan tembakan brutal pada demonstrasi damai yang diselenggarakan oleh penduduk dari salah satu lingkungan di Aleppo sebagai tanda protes menuntut bahwa kota Allepo harus dibersihkan dari para teroris (Tentara Pembebasan Suriah). Bahkan, Universitas Allepo yang dulunya merupakan salah satu basis pergerakan menentang Assad di Allepo-pun turut dihujani roket oleh Tentara Pemberontak Suriah. Hasilnya, lebih dari 80 mahasiswa tewas.

 

Tentara Suriah Semakin Cerdik, Tentara Pembebasan Suriah Semakin Kehilangan Akal Sehat

Kalau kita ikuti perkembangan pertempuran di Suriah dengan sedikit jeli, maka akan terlihat bahwa pengunggahan video oleh Tentara Pembebasan Suriah mulai jarang. Mereka hanya dapat melakukan propaganda yang diulang-ulang ataupun berbagai peristiwa masa lalu yang dikemas ulang. Hampir semua video yang diunggah dan seolah-olah kemenangan gilang-gemilang mereka sebenarnya merupakan hasil kemas ulang peristiwa-peristiwa pertempuran dimasa lalu.

Sementara, dilapangan, daerah kekuasaan Tentara Pemberontak Suriah mulai direbut oleh Tentara Assad. Hom, Hama, Idlib, Darraya, Allepo, dan masih banyak lagi, sudah dikuasai kembali oleh tentara Assad. Pelan tetapi pasti, Tentara Pembebasan Suriah mulai terdesak keluar Suriah.

Kekuatan tempur utama Tentara Pemberontak pun mulai habis. Jabhat Al Nushra, Al-Sham Falcon Brigade, dan masih banyak lagi semakin banyak kehilangan anggota. Hanya tinggal North Storm Battalion yang masih kelihatan solid dan aktif di perbatasan Turki, sementara dalam minggu terakhir, kekuatan tempur utama tentara pemberontak sama sekali tidak terdengar. Penyerbuan ke Kwers Airport baru-baru ini-pun sama sekali tidak menunjukkan sesuatu yang signifikan, karena Kwers Airport sendiri hanyalah kelas bandara untuk penerbangan perintis, dan hanya dijaga oleh segelintir tentara Suriah.

Sedangkan niatan Tentara Pemberontak Suriah untuk merebut Sere Kaniye (Ras Al Ayn) mendapatkan perlawanan yang luar biasa dari penduduk setempat. Kota yang dihuni oleh mayoritas suku Kurdi ini melakukan perlawanan sengit, dan memilih untuk bertempur habis-habisan dengan Tentara Pemberontak yang di motori oleh Jabhat Al-Nushra.

Nampaknya, Qatar, Saudi, Turki dan negara-negara Barat telah salah perhitungan ketika berharap bahwa Assad akan digulingkan dengan cepat dan kemenangan mereka di Suriah akan berlanjut seperti Libya dan Mesir. Sedangkan PBB entah masih ada di muka bumi atau tidak saat ini. Yang jelas, mereka sudah tidak terdengar suaranya lagi.