Kalau kita mau mengamatinya dengan jujur, sebenarnya terlalu banyak orang yang jauh lebih hebat dari diri kita dalam banyak hal. Justru disinilah sebenarnya point tersendiri bagi kita untuk sedikit menahan diri untuk tidak terlalu ngoyo untuk menjadi yang terhebat. Itupun kalau kita bersedia menyadarinya.
Dalam hal ilmu pergaplean, saya jelas hampir mustahil mengalahkan Mbah Gito yang sudah bertahun-tahun menggeluti dunia pergaplean. Dalam hal ngaduk campuran semen pasir dan kapur, saya jelas sulit untuk menandingi kepiawaian Pak Tri, karena memang pekerjaan sehari-harinya selama bertahun-tahun berkutat dalam bidang aduk-mengaduk bahan bangunan. Dalam hal puasa, saya jelas sulit sekali mengalahkan istri saya sendiri, karena dia lebih ahli dalam hal puasa dan itu dilakukannya secara rutin bertahun-tahun. Bahkan mungkin dengan anak saya saja, saya masih kalah beberapa strip. Masih banyak lagi ribuan contoh lainnya yang bisa kita ambil disekitar kita.
Kita ini sering merasa lebih hebat karena terjebak fatamorgana parameter kehebatan yang kita ciptakan sendiri. Kita sering menciptakan parameter kehebatan atas nama pendidikan. Kita sering menciptakan parameter kehebatan atas nama kekuasaan. Kita sering menciptakan kehebatan-kehebatan lainnya yang sebenarnya merupakan parameter ego kita yang terpelihara secara bertahun-tahun. Lebih celakanya, parameter itu dianut oleh sebagian besar kita dalam mengukur kehebatan seseorang.
Untuk melepaskan diri dari fatamorgana parameter kehebatan yang kita ciptakan, bukanlah sesuatu yang mudah. Itu membutuhkan kerja keras dan ketabahan hati yang amatlah berat. Saya sendiri sangat susah untuk melepaskannya. Bahkan hampir bisa dikatakan, saya ini gagal untuk terlepas dari parameter kehebatan yang sebenarnya hanyalah fatamorgana itu.
