Siapa sih yang nggak suka dipangku ibunya?
Sewaktu kecil tentu kita senang sekali jika dipangku ibu kita. Kita bisa bermanja-manja dengan ibu kita manakala dipangkuannya, dan ketika seorang anak dipangku, maka akan mudah dibimbing oleh orang tuanya.
Dalam pengembangan organisasi dan mengoptimalkan sumber daya organisasi kita bisa menggunakan falsafah jawa yaitu dengan istilah dipangku. Dalam huruf jawa ada istilah dipangku. Apapun hurufnya, jika dipangku pasti akan mati, atau berubah dari bunyi vokal menjadi konsonan.
Bagian ini akan Masjoen jelaskan kaitan dipangku dalam rerangka organisasi.
Apakah SDM (sumber daya manusia) adalah aset organisasi?
Mungkin anda akan setuju kalau SDM adalah aset organisasi. Akan tetapi menurut Pak Tung SDM yang dahsyat lah yang merupakan aset organisasi. Salah satu tugas leader yang paling berat adalah mengoptimalkan sumber daya yang dikuasainya untuk meraih impian ataupun visinya. Artinya bahwa seorang leader yang hebat bukan diukur dari seberapa besar visi dan misinya, akan tetapi bagaimana mengelola sumber daya yang dahsyat untuk mencapai visi yang ditetapkan organisasi.
Dalam rerangka organisasi manapun biasanya terdapat dua komunitas besar. Komunitas pertama adalah komunitas independen, dan komunitas dependen. Komunitas pertama adalah komunitas independen ini biasanya tetap bisa survive tidak tergantung pada organisasi, sedangkan komunitas kedua adalah komunitas dependen adalah sekumpulan orang yang keberadaannya sangat tergantung pada organisasi yang diikutinya. Komunitas pertama biasanya akan tetap eksis dengan jati dirinya dengan ataupun tanpa organisasi, sedangkan komunitas kedua ini tanpa organisasi sebenarnya mereka bukan siapa-siapa.
Jika dilihat dari idealisma biasanya komunitas independen memiliki rigoritas yang jauh lebih tinggi, dan cenderung tidak bermental ABS (asal bos senang). Sebaliknya untuk komunitas yang dependen, karena keberadaannya sangat depend on organisasi, maka mereka akan sangat tergantung pada pimpinan organisasi, sehingga sulit berkata tidak pada atasannya, meskipun atasannya berbuat salah, mereka cenderung tidak berani menolak atau mencegahnya.
Bagaimana kedua komunitas ini bersikap dalam mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran?
Keberanian kedua komunitas ini dalam menyuarakan kebaikan dan mencegah kemungkaran biasanya juga berbeda. Komunitas independen biasanya lebih berani mengungkapkan hal tersebut, karena biasanya komunitas ini bertindak atas nama panggilan moralnya. Sedangkan untuk komunitas dependen dalam mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran selalu mengkaitkan dengan kepentingan pribadi. Sangat jarang kelompok dependen bertindak tanpa melepas kepentingan atau atribut pribadinya.
Sebagai seorang leader, memperlakukan dua komunitas ini juga tidak bisa disamakan. Untuk komunitas dependen biasanya banyak dilakukan kontrol, mengingat mereka adalah tergolong orang yang tidak visioner, dan cenderung hanya mengikuti apa kata atasannya. Ide-ide kreatif jarang muncul dari mereka, oleh karena itu biasanya semua ide berasal dari atasannya sehingga mereka hanya melakukan perintah atasannya.
Selanjutnya untuk komunitas independen biasanya mereka memiliki ide-ide dahsyat untuk pengembangan organisasi. Komunitas independen bisanya orangnya lebih lentur, cerdas, visioner, dan memiliki integritas yang tinggi. Dalam mengoptimalkan sumber daya yang dahsyat sebenarnya seorang leader tidak harus banyak melakukan controlling. Dibimbing ya, tapi jangan banyak dikontrol
Mengapa?
Kalau leader terlalu mengedepankan kontrolnya, maka justru akan mematikan potensi, dan ide-ide cemerlangnya. Orang-orang yang tergolong independen ini agar bisa dioptimalkan kedahsyatannya kuncinya adalah seorang leader harus bisa “nguwongke”, menempatkan seseorang pada porsi yang semestinya. Jika pemimpin organisasi tidak bisa “nguwongke” maka akan sulit memaksimalkan peran orang-orang dahsyat untuk pengembangan organisasi. Gentlement aggreement sangat dipegang oleh orang-orang dahsyat tersebut. Jika leader bisa nguwongke, maka orang-orang dahsyat tersebut karena memiliki idealisme yang tinggi maka dengan panggilan moralnya akan terus berkarya bagi organisasi. Dengan dipangku, maka sumber daya yang dahsyat akan bisa diajak untuk membawa organisasi menjadi dahsyat.
