Kriteria UMKM

Telah Dibaca: 1,676 Kali

Keypoint: Ada yang mendefinisikan wirausaha sebagai semacam avonturisme. Ini benar dalam arti seorang wirausaha selalu terdorong untuk merambah bidang-bidang usaha baru. Wirausaha juga dikatakan sebagai “kecanduan adrenalin”. Ini benar dalam arti seorang wirausaha seperti orang yang sepertinya tidak mempunyai rasa capai dalam bekerja keras mengejar cita-citanya. Wirausaha juga didefinisikan sebagai seorang yang selalu mencari sesuatu yang mendebarkan (thrill seeking)?

1. Pengantar

Kewirausahaan itu bakat dari lahir/keturunan, maka tidak dapat diajarkan. Suku Jawa tidak akan dapat menjadi pengusaha karena mentalitas priyayinya. Etnis Tionghoa berbakat tata niaga, maka ada semacam jargon yang mengatakan orang Cina kaya pasti punya toko. Kalau bukan keturunan kasir, tidak akan mampu untuk menjadi kasir, konon sampai dengan tahun 1960-an, yang jadi kasir di Bank Indonsia harus keturunan Tionghoa karena jabatan kasir itu merupakan keturunan. Pengusaha Jawa dan juga pengusaha dari suku Minang tidak akan pernah bisa menjadi pengusaha besar, karena suka royal/pamer.

Jargon-jargon tersebut di atas tadi merupakan sebagian dari mitos-mitos ten tang kewirausahaan. Banyak teori kewirausahaan yang menyatakan bahwa jiwa kewiraswastaan seseorang melekat pada kelompok etnik tertentu, pada daerah tertentu, dan sebagainya. Mitos-mitos tentang kewirausaan tadi banyak sekali, sama seperti halnya beberapa orang buta memberikan definisi tentang gajah akan mempunyai definisi yang berbeda satu sama lain,demikian pula halnya tentang kewirausahaan. Setiap wirausaha berdasarkan pengalamannya akan mempunyai definisinya sendiri-sendiri.

Ada bermacam-macam definisi-definisi kewiraswastaan menunjukan betapa pentingnya makna kewiraswastaan tersebut bagi dunia usaha. Dalam prespektif masing-masing, pengertian itu mengandung kebenaran dan tujuan, misalnya saja ada yang mendefinisikan wirausaha sebagai semacam avonturisme. Ini benar dalam arti seorang wirausaha selalu terdorong untuk merambah bidang-bidang usaha baru. Wirausaha juga dikatakan sebagai “kecanduan adrenalin”. Ini benar dalam arti seorang wirausaha seperti orang yang sepertinya tidak mempunyai rasa capai dalam bekerja keras mengejar cita-citanya. Wirausaha juga didefinisikan sebagai seorang yang selalu mencari sesuatu yang mendebarkan (thrill seeking). Ini benar dalam arti bahwa setiap usaha baru tidak pernah membuat orang biasa meraasa nyaman adn mapan. Ia belum tahu akan bagaimana hasilnya sehingga usaha tersebut akan mendebar-debarkan hatinya. Inilah justru kenikmatan yang dicari

Kendati pelbagai mitos dan definisi diatas tidak salah, namun mengadung bias-bias subjekti. Bahkan terkadang kontradiktif antara satu sama lain. Misalnya, seorang wirausaha mengutarakan “pokoknya jalani saja” berkontradiksi dengan wirausaha lain yang berpendapat “hitung dulu pendapatan sesal kemudian tak berguna  .” Tentu masing-masing pandangan ini dilatarbelakangi oleh pengalaman hidup masing-masing wirausaha yang berbeda satu sama lain

2. Kriteria Usaha Kecil Menengah

Kamar Dagang Indonesia membedakan usaha kecil menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang bergerak di bidang perdagangan, pertanian dan industri, dimana yang dimaksud usaha kecil untuk kelompok ini adalah usaha yang memiliki modal kerja kurang dari Rp. 150 juta dan memiliki nilai usaha kurang dari Rp. 600 juta. Kelompok kedua adalah usaha yang bergerak dalam bidang konstruksi. Adapun untuk kelompok kedua yang dimaksud usaha kecil adalah yang memiliki modal kerja kurang dari Rp. 250 juta dan memiliki nilai usaha kurang dari 1 miliar.

Menurut UU no.9/1995, kriteria usaha kecil adalah (a) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau (b) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1 miliar, (c) milik Warga Negara Indonesia, (d) berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar dan (e) berbentuk badan usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, termasuk koperasi.

Menurut UU no 20/2008, kriteria usaha kecil adalah (a) memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan lebih dari Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). Sedang criteria usaha menengah adalah (a) memiliki kekayaan bersih lebih dari  Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau (b)imemiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua miyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (limapuluh milyar rupiah.

Biro Pusat Statistik mendefinisikan UKM sebagai industri yang memiliki kurang dari 100 karyawan. BPS mengelompokkan industri ke dalam 4 golongan, yaitu : (a) industri kerajinan : 1-4 karyawan/perusahaan, (b) industri kecil : 5-19 karyawan/perusahaan, (c) industri sedang : 20-99 karyawan/perusahaan dan (d) industri besar : lebih dari 100 karyawan/perusahaan. Departemen Perindustrian dan Bank Indonesia mendefinisikan usaha kecil berdasarkan nilai assetnya, yaitu usaha yang assetnya (tidak termasuk tanah dan bangunan) bernilai kurang dari Rp. 600 juta. Departemen Perdagangan membatasi usaha kecil berdasarkan modal kerjanya, yaitu usaha (dagang) yang modal kerjanya bernilai kurang dari Rp. 25 juta.

Di Britania Raya, pendekatan yang digunakan dalam mendefinisikan UKM hampir sama dengan pendekatan yang digunakan di Amerika Serikat,yaitu pada kriteria kualitatif dan kuantitatif (mulai tahun 2000) Sebuah komite UKM di Inggris yang dibentuk pada bulan Juli tahun 1969 mendefinisikan UKM adalah  usaha yang mempekerjakan kurang dari 200 pekerja masuk dalam golongan usaha kecil. Karena terdapat beberapa kekurangan mengenai definisi tersebut, kemudian komite menambahkan beberapa kriteria antara lain harus dijalankan oleh pemiliknya sendiri, dan bersifat mandiri, tidak tergantung pada usaha berkategori besar dalam menjalankan usahanya. Komite kemudian menetapkan ukuran kuantitatif dan memberi batasan 200 orang pada usaha manufaktur, perputaran tahunan sebesar 50.000 poundsterling (sesuai dengan harga tahun 1970) untuk usaha retail dan 25 pekerja dalam usaha konstruksi.

Bank Dunia (1978), memberikan definisi tentang  UKM adalah suatu usaha yang mempekerjakan antara 5 hingga 199 orang pekerja yang bekerja penuh. Disisi lain, Komisi Eropa sebagaimana yang dilaporkan oleh Mulhern (1995) dan Smallbone (1995) mendefinisikan UKM sebagai suatu usaha yang mempekerjakan kurang dari 500 orang pekerja. Lebih lanjut, Komisi Eropa juga membagi UKM dalam tiga kategori, yaitu (i) micro-enterprises, yang mempekerjakan kurang dari 10 orang pekerja, (ii) small enterprises, yang mempekerjakan antara 10 hingga 99 orang pekerja, dan (iii) medium enterprises, yang mempekerjakan antara 100 hingga 499 orang pekerja.

Berbagai kriteria kuantitatif yang digunakan untuk mengukur besarnya suatu bisnis adalah : (i) jumlah pekerja, (ii) volume penjualan, (iii) nilai aset keseluruhan, (iv) besarnya nilai asuransi dan (v) besarnya simpanan yang dimiliki di bank. Dari kriteria tersebut, jumlah pekerja, sebagaimana yang ditekankan oleh Longenecker et. al (1994), adalah kriteria yang paling banyak dijadikan acuan untuk mengukur besarnya suatu bisnis di Amerika Serikat. Hashim dan Wafa (2002) mengemukakan tentang kriteria terbaik dalam pengukuran besarnya suatu bisnis tergantung dengan tujuan masing-masing pemakai.

Barrow (1998) mengemukakan adanya dua kriteria UKM di Amerika Serikat. Kriteria yang pertama kali digunakan oleh Small Business Administration (SBA) di Amerika Serikat untuk mengklasifikasian UKM adalah jumlah pekerja dan volume penjualan (Longenecker et al., 1991 dan 1994). Sebagai contoh, dalam usaha manufaktur dan pertambangan, SBA mengklasifikasikan bisnis yang memiliki pekerja dibawah 500 orang masuk dalam kriteria ”small”. Kedua ukuran standar bagi kebanyakan industri non-manufaktur didasarkan pada penerimaan tahunan.

The Committee for Economic Development (CED),mendefinisikan UKM lebih menekankan pada kriteria kualitatif daripada kuantitatif. Menurut CED, UKM harus memiliki sekurang-kurangnya dua dari kriteria kualitatif berikut, yaitu : (i) Manajemen bisnis dilakukan secara mandiri, dimana manajer biasanya juga merupakan pemilik usaha. (ii) Modal disetor oleh pemilik perseorangan atau oleh kelompok kecil. (iii) Area operasi dari bisnis tersebut masih dalam area lokal. (iv) Ukuran besar-kecilnya suatu usaha tergantung dari industri yang dijalankan. Ukuran besar-kecilnya suatu usaha sangatlah bervariasi, sehingga suatu usaha yang terlihat besar dalam suatu industri mungkin masuk dalam kriteria usaha kecil pada industri lain.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian/definisi UKM masih beragam dan potensial menimbulkan program pembinaan UKM yang kurang terarah dan dapat  menimbulkan konflik antar departemen dalam pelaksanaanya. Pada situasi ekonomi negara seperti sekarang ini yang ditandai oleh banyaknya pengangguran, maka peran UKM sebagai penyedia lapangan kerja untuk mengurangi tingkat pengangguran menjadi sangat penting baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Disamping berperan sebagai penyedia lapangan perkerjaan, UKM mampu membuat barang dan jasa dengan harga terjangkau oleh masyarakat lapisan bawah dan membuat daerah/lokasi dimana UKM itu berada menjadi lebih ramai dan hidup. Persoalan yang dihadapi UKM saat ini adalah bagaimana UKM ini dapat tetap bertahan pada himpitan persaingan yang ketat sembari meningkatkan kinerja bisnisnya.  

Tagged with